Jumat, 20 Maret 2020


Cintailah alam mu sebagai mana kamu ingin di cintai

Hallo guys!!
Cintailah lingkungan mulai dari diri sendiri
Perkenalkan saya adalah salah satu mahasiswi di universitas swasta Jakarta selatan.
Selain sebagai mahasiswi saya pun bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang frozen food sebagai Staff accounting and tax.
Saya buat blog ini berawal dari sebuah tugas dan sekaligus saya ingin menyapaikan kepada para pembaca untuk kita saling berubah menjadi manusia yang lebih baik dan peduli terhadap lingkungan.
.
 “Air hujan yang jatuh tidak pernah membenci awan, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja ke bumi. tidak melawan dan mengikhlaskan” hehe. Oke langsung saja;
.
Berawal dari tahun baru 2020, hujan menyebabkan banjir di hampir seluruh wilayah jabodetabek.
Kenapa begitu? Karena curah hujan yang sangat tinggi, serta hujan yang bersamaan pada suatu wilayah menyebabkan waduk atau bendungan sudah tidak dapat lagi membendung air yang jatuh, oleh karenanya menyebabkan banjir dimana mana dan khususnya di jabodetabek.
Selain curah hujan yang sangat tinggi, penyebab banjir pun tidak lain dan tidak bukan ialah sampah, karena sampah yang menumpuk dapat menyumbat saluran saluran air. Baik itu di kali, di parit, atau bahkan di waduk.
Maka dari itu saya mencoba meninjau sendiri apa penyebab banjir selain curah hujan yang tinggi dan sampah yang numpuk itu sampah seperti apa, dan hasilnya ialah sampah plastik atau kemasan plastik sekali pakai. Contohnya : Botol, gelas plastik, pempers, Sedotan, Srtrofoam dan masih banyak lagi
Bahkan Di tempat saya bekerjapun tidak terlepas dari plastik sekali pakai, mulai dari kemasan produk hingga pengemasan untuk dikirimkan ke customer.
Dan sampah plastiklah yang sangat banyak di hasilkan oleh manusia di bumi ini, baik dari segi rumah tangga, produksi ataupun yang lainnya, menurut peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, Jenna Jambeck
Indonesia menduduki peringkat kedua penyebab sampah plastik.


Akan tetapi Sekretaris BRSDM KKP Maman Hermawan mengatakan, upaya untuk mengungkap produksi sampah plastik yang ada di lautan Indonesia, menjadi tugas penting bagi Indonesia. Menurut dia, informasi yang terlanjur menyebar luas di publik tentang status Indonesia sebagai negara kedua di dunia dengan produksi sampah plastik terbanyak, patut untuk dibuktikan kebenarannya.
“Perlu ada penelitian yang jelas, kajian yang sungguh-sungguh. Makanya, kita mau bentuk tim khusus untuk mengungkap kebenaran berita tersebut,” ujarnya di Jakarta, pekan lalu.
Dapat kita lihat bersama pengaruh sampah bukan hanya berdampak pada manusia, bahkan sampah yang tidak dengan sengaja kita hasilkan dan mungkin kita pernah membuangnya sembarangan berdampak pula kepada lingkungan, dan hewan yang ada di bumi ini juga di laut.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kini sedang meneliti dugaan tingginya tingkat pencemaran sampah plastik di laut Indonesia. LIPI telah melakukan riset selama 37 hari terhitung 18 November hingga 25 Desember di sejumlah titik perairan Indonesia.
Dalam penelitian tersebut, tim peneliti LIPI mengambil sampel sampah plastik serta air laut dengan menggunakan botol khusus di empat titik selatan Jawa dan selat Makasar pada kedalaman yang berbeda-berbeda, antara 2.000 hingga 3.000 meter. Nugroho menjelaskan sampah plastik yang mencemari laut selama ini tidak hanya dalam ukuran besar, tetapi ada juga kandungan mikroplastik dalam skala ukuran jauh lebih kecil. Oleh karena itu sampel air dibutuhkan dalam riset itu. Menurut Nugroho, sampel tersebut dibawa ke laboratorium di Ambon untuk dianalisis menggunakan mikroskop usai melalui proses penyaringan dan tahapan lain.
 Dia menambahkan riset LIPI itu hendak membuktikan apakah Indonesia benar-benar penghasil sampah plastik di laut yang terbesar kedua di dunia. Sebab, bisa saja selama ini sampah plastik masuk dari negara-negara lain
Sampah plastik juga salah satu penyebab perubahan iklim
Dalam artikel yang terbit di jurnal PLOS ONE, Rabu (1/8), tim ilmuwan mengatakan plastik mengeluarkan gas metana dan etilena pada saat terkena sinar matahari dan rusak.
Dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga proses berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. sumber material kantong plastik yang terbuat dari minyak bumi, yang merupakan sumber daya alam tak terbarukan, mengakibatkan pencemaran lingkungan di negara - negara berkembang karena limbah pabriknya di buang ke sungai dan pembakaran gas metana mengakibatkan emisi karbon ke udara.
Peneliti melakukan tes pada produk plastik yang biasa digunakan seperti botol air, tas belanja dan wadah makanan. Gas metana, baik buatan maupun alami, dikatakan sebagai penyebab utama perubahan iklim. Untuk itu mari bersama-sama untuk saling bahu membahu, untuk tidak membuang sampah sembarangan dan kalau bisa kita mengurangi penggunaan plastik sekali pakai agar dapat meminimalisir hasil pemakaian yang menyebabkan banyaknya sampah di muka bumi ini
Mari bersama kita lestarikan lingkungan, dengan cara membuang sampah pada tempatnya, dan mengurangi penggunaan sampah plastik.
Untuk itu rubahlah pola hidup kita, karena kalau kita tidak memulai dari sekarang, dan kalau bukan dari kita, siapa lagi. maka cintailah alam (bumi) seperti kita ingin di cintai.


By    : Faulina
Nim : 1911510236
https://fti.budiluhur.ac.id/
https://www.budiluhur.ac.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar